Rumah pohon itu besaaaaaaar.. Bertengger di puncak pohon baobab, dengan tangga tali yang terbuat dari sulur-sulur yang dicabut dari pohon beringin. Kira-kira tingginya 5 meter dari tanah. Kaito dan Gakupo membimbing Len naik tangga, padahal Len masih terbengong-bengong bahkan ketika baru melihat bagian luar rumah pohon itu. Ketika sudah di atas, semuanya menjadi lebih luar biasa. Temboknya terbuat dari kayu cokelat tua yang dijajarkan membentuk lingkaran sempurna. Disisakan satu lubang di salah satu sisinya sebagai pintu masuk ke dalam. Pintu masuknya berupa tirai yang terbuat dari daun-daun yang digantung dari atas. Di bagian dalam, seperti terlihat dari luar, merupakan ruangan besar berbentuk lingkaran sempurna yang tidak dipisahkan oleh dinding. Dengan beberapa lubang sebagai jendela, satu yang besar di timur dan barat, dan yang kecil di sebelah utara dan selatan. Jendela itu juga diberi tirai dari sulur pohon beringin, tetapi bisa ditarik ke pinggir apabila ingin membuka jendela. Di salah satu sisi rumah, terdapat suatu tempat yang terlihat seperti dapur, dengan alat-alat mirip pisau yang terbuat dari batuan yang diasah sedemikian runcing. Di area sebelahnya, lebih mirip kamar. Ada dua tumpukan daun-daun yang ditata mirip kasur dan daun yang diikat tebal menyerupai bantal. Dan sisanya merupakan tempat kosong yang.. Entahlah. Mungkin biasa digunakan untuk bermain-main. Di jendela utara, terdapat semacam katrol dengan tali dari sulur pohon dan benda mirip ember untuk mengambil air dari sungai di bawah. Rupanya Kaito dan Gakupo berhasil memilih lokasi yang sangat strategis: pohon tertinggi di pulau, terletak di tengah pulau, dekat sungai sehingga memudahkan mereka jika ingin mengambil air atau mandi atau keperluan lainnya, dan sepertinya jauh dari ancaman predator, atau mungkin pulau itu bebas predator. Len masih terkagum-kagum..
"WOOOOW!! This.. This is awesome!!" jeritnya. "Kenapa jendela di barat dan timur gede? Kenapa jendela yang di utara selatan kecil?? Aaaah ya ampuun.. Terus, ini dapur??" Len berlari ke arah dapur. "Ya ampuun.. Ada talenan, ada pisaunya.. Waaah.. Pisaunya, serasa di Zaman Batu. Terus, ini kasur, empuuuuuuk!!" Len berjalan di kasur daun itu, lalu meloncat-loncat di atasnya. "Ini.." Len berjalan ke jendela berkatrol. "Buat ngambil air di bawah.. And it's working!!!" kata Len sambil memain-mainkan katrolnya. "Butuh berapa lama buat mbangun rumah ini kak??"
"Hmm.. Kira-kira 2 sampe 3 bulanan lah.. Arsitekturnya keren kan hehehe." jawab Gakupo sambil memuji-muji hasil karyanya.
"Kak Miku, Kak Meiko, Rin dan Tante Luka bener-bener harus liat ini!! Mereka harus ke sini!! Waaah.." Len lari-lari mondar-mandir keliling rumah.
Kaito dan Gakupo bertukar pandang sedih. "Kecil harapannya mereka bakal ke sini Len." kata Kaito dengan senyum sedih.
"Ya.. Entahlah, mungkin tempat ini terlalu terpencil sampe-sampe helikopter aja nggak mungkin lewat sini." tambah Gakupo. "Waktu awal-awal kita terjebak di sini, kita ngabisin 2 bulan pertama keliling pulau bikin api unggun, nunggu helikopter dateng. Nggak jarang kita ngebangun patung dari daun yang kita nyalain api di puncaknya, buat sinyal minta tolong. Tapi nggak pernah ada yang dateng." jelasnya.
"Kita putus asa, dan akhirnya kita mbangun rumah di sini, kita udah nggak pernah berharap bakal bisa balik lagi." ujar Kaito sedih.
Len manggut-manggut. "Tapi sekarang aku di sini! Ini pertanda baik. Kita harus pulang!" serunya.
"Gimana Len? Ini pulau terpencil in the middle of nowhere dan percaya sama aku.. Kita terjebak di sini. Trapped! No way out! Cut out from this world! Never gonna make it there.." kata Gakupo sambil melirik jendela.
"Aaaah!! Ini bukan kalian!! Kak Kaito dan Om Gakupo yang aku kenal, bukan kayak gini.." ujar Len kecewa.
"Kita amnesia Len, jangan salahin kita." kata Gakupo ketus.
"Aku serius.." Len menarik Kaito dan Gakupo secara paksa untuk duduk di tengah ruangan. "Mungkin aku harus nyeritain beberapa kutipan hidup kalian.."
Kaito terdiam, menatap Len dengan serius. Tetapi Gakupo hanya memberi tatapan 'trust-me-kid-you-will-never-get-out-of-this-island' yang sinis.
"Oke. Aku akan memulai dari Kak Kaito.. Ehem.." Len berdeham. "Kak Kaito hidup miskin. Kak Kaito adalah anak kelima dari 9 bersaudara. Delapan cewek, 1 cowok. Kak Kaito selalu kerja keras untuk menghidupi mereka. Ya emang nggak cuman kakak doang yang kerja, tapi diantara yang lain, pekerjaan Kak Kaito sebagai artis paling mapan. Kak Kaito rela malu-maluin depan umum biar dapet uang, banyak video dan foto-foto kakak yang di situ foto kakak lagi apes. Lalu, waktu dapetin Kak Miku.. Ahaaaaa ini favoritku.. Ya aku tau kakak orangnya payah, polos, hmmm, hampir nggak bisa diandalkan, hampir nggak ada romantis-romantisnya.. Eeee jangan marah.." Len panik melihat ekspresi Kaito yang 'sepayah-itukah-aku'.
"Iya oke. Lanjut." ujar Kaito cepat.
Len melanjutkan. "Ya.. Tapi kalo depan Kak Miku, Kak Kaito bisa jadi penyelamat. Tau-tau bisa jadi gagah dan keren. Misalnya waktu Kak Miku hampir dirampok penjahat, Kak Kaito langsung ke depannya Kak Miku, habis itu mengorbankan es krim mahal yang baru dibeli ke muka perampoknya dan kabur. Kakak itu paling suka es krim vanila, sampe beli banyak yang nggak gampang meleleh, mengorbankan uang tabungannya yang dikumpulin susah payah dan.."
"Oke. Lalu, apa hebatnya?" potong Gakupo. "Itu cuman kabur dari perampok dan mengalihkan perhatian dengan es krim. Semua orang juga bisa."
"Ta.. tapi.." Len terbata-bata.
"Kamu mau ngomong kayak gimana juga, kita nggak akan pernah bisa keluar dari pulau ini. Kita terkutuk di sini, nggak akan bisa balik, sampe kapanpun! Stop giving hopes when there's none!!" Gakupo langsung bangkit.
"Lho? Po, mau kemana?" Kaito berusaha mencegah.
"Cari makan. Udah sana kamu sambut tamu kita dulu." Gakupo memalingkan wajah dengan cuek lalu mengambil tombak *ternyata ada tombak juga* lalu turun dari rumah pohon.
Sunyi.. Krik krik krik..
Len terkejut. Apa yang baru saja dia katakan?
"Maaf Len, dia emang kayak gitu." Kaito tersenyum malu.
"Ya, aku kenal. Om Gakupo emang agak sensitif, sedikit belagu dan keras kepala. Tapi aku masih nggak paham kenapa dia tau-tau langsung marah kayak gitu." kata Len.
"Yaaa.. Waktu dulu, dia lah yang paling bersemangat untuk keluar dari sini. Bikin kapal yang ujung-ujungnya selalu bocor, bikin patung. Kamu kira itu ideku? Bukan, itu ide dia. Dia bilang 'Biru! Tiap malem aku selalu mimpiin pesta pernikahanku, dan aku mikir, ini bukan sekadar mimpi. Istriku di sana and who knows I already have a kid, dan aku harus ke mereka! Mumpung aku masih hidup. Gimana dengan kehidupan mereka sehari-hari? Apakah damai, bisa makan ato nggak? Kamu mungkin nggak akan pernah percaya tentang mimpiku, nggak percaya cowok kayak aku bisa nikah juga, tapi aku yakin mereka di sana. Keluargamu juga disana Ru!!' dia ngomelin aku kayak gitu waktu aku udah putus asa. Jujur aja, padahal aku nggak pernah bilang kalo aku nggak percaya cowok kayak dia bisa nikah, haha. Tapi intinya setelah 2 bulan, dia nyerah. Sebelum bener-bener nyerah, dia tau-tau ngilang selama 1 hari. Aku emang nemuin dia, tapi waktu aku liat, dia lagi nangis histeris di suatu tempat yang agak tersembunyi, sambil mukul-mukul sekelilingnya, ya aku langsung kabur aja. Lalu beberapa jam kemudian, dia balik ke tempat aku sama dia biasa istirahat dan dia bilang ke aku 'Ya udah Ru. Ayo bikin rumah pohon.' gitu." Kaito bercerita.
"Wew." Len kicep. "Segitunya."
"Ya.. Begitulah. Udah sekarang kita tunggu dia aja." kata Kaito sambil merebahkan tubuhnya.
"Mmmm.. Apakah nggak sebaiknya kita kejar?" usul Len.
"Jangan." jawab Kaito. "Kalo kita kepencar, dia malah marah nantinya. Biarin aja. Dia bakal balik sebelom matahari terbenam."
"Hmm.. Oke.." Lalu Len berjalan ke arah jendela barat, memandangi pemandangan pulau di bawahnya.
"Oya Len.. Istrinya Gakupo, kayak apa dia?" tanya Kaito santai.
"Oooh.. Tante Luka.. Tante Luka itu cantik, elegan, sensual.."
"Hahay sensual. Kamu kecil-kecil udah ngerti sensual aja. Pantes Gakupo mau." tegur Kaito.
"Tapi aku serius kak. Tante Luka itu sensual dan cantik. Terus baik, pengertian. Agak tinggi, rambutnya pink panjang dan selalu diurai. Dan jujur, kalo diliat-liat, mereka pasangan yang cocok." jelas Len.
"Lalu.. Pacarku?? Gimana pacarku? Mei.. Mi.. Siapa namanya? Miku? Miku kan? Ya, dia gimana?" Kaito bertanya dengan semangat.
"Ahahahaha. Cantik, rambutnya tosca panjang dan selalu diiket 2, polos, baik. Wkwkwkwk." Len mulai menjelaskan.
"Waaaa.. Persis kayak di mimpiku." Kaito berteriak lalu mengambil salah satu bantal daun dan memeluk-meluknya. "Hubunganku dan dia lancar kan??"
"Lancar lancar.. Hahaha." jawab Len. "Tapi.."
"Tapi apa??" Kaito bangkit, penasaran.
"Ahahahaha. Kalo berantem kalian lucu.." kata Len.
"Aaaah Len!! Cerita sama aku lebih banyak!!"
Dan mereka menghabiskan sisa hari bercerita dan tertawa. Sedangkan Gakupo, yaah.. Berburu -_-"
Meiko berjalan ke anjungan kapal lagi. Hari masih pagi ketika itu dan Rin dan yang lainnya belum bangun tidur. Jujur saja, semalaman mereka semua menangis tersedu-sedu dan baru berhenti pada pukul 2 pagi. Dan sekarang, dengan tekad baru, Meiko memutuskan untuk mencari sendiri 'keluarga'nya yang hilang.
Ia menaiki tangga menuju anjungan, menemui Nahkoda Oliver yang sedang duduk santai sambil minum kopi dan melihat ke jendela depan. Ketika pintu dibuka, spontan Oliver langsung menengok ke belakang. Agak terkejut melihat ternyata Meiko yang memasuki anjungannya. Ia langsung bangkit, menghadap Meiko.
Ia meminta maaf, "Saya turut menyesal atas kehilangan.."
"Saya ingin mencari mereka." potong Meiko, bersedekap sambil menatap lurus ke Oliver dengan ketus.
"A.. Apa?" Oliver tersentak.
"Saya ingin mencari mereka." jelas Meiko. "Anda tahu, keluarga saya yang hilang dalam kapal ini." Meiko memberi penekanan pada tiga kata terakhir. "Saya baru sadar bahwa Anda adalah seorang nahkoda yang tidak bertanggung jawab, membiarkan penumpang Anda hanyut begitu saja dalam badai besar sedangkan Anda yang merupakan Kapten kapal ini baik-baik saja dan malah menikmati secangkir kopi hangat di pagi hari. Anda bahkan tidak melakukan pencarian apa-apa terhadap penumpang Anda yang hanyut dari kapal ini. Jadi saya berpikir tidak ada gunanya berharap pada Anda, dan saya ingin mencari mereka sendiri, tanpa bantuan Anda."
"Ta.. Tapi Bu.. Saya tidak bisa membiarkan itu terjadi." Oliver menolak. "Badai bisa terjadi lagi, dan jika saya mengizinkan Bu Meiko mencari mereka sendiri, sama saja dengan saya membunuh.."
"Anda sudah membunuh saya dari dulu." potong Meiko pedas. "Kehilangan keluarga sendiri, itu membunuh kami semua dari dalam. Anda tidak perlu merasa bersalah lagi jika pada kenyataannya saya nanti tidak bisa kembali dari pencarian saya. Dan saya tidak menerima jawaban 'tidak' dari Anda. Saya minta sekoci. Speedboat lebih baik jika Anda memilikinya. Saya juga bersedia membayar.. Lima puluh ribu yen. Cukup kah?" Meiko mulai meraih dompetnya.
"Tapi.. Saya tidak bisa mengizinkan Anda turun kapal begitu saja dan memulai pencarian terhadap keluarga Anda." tolak Oliver tegas.
"Ooo jadi 50 ribu belum cukup? Ya sudah, kalau begitu, 100 ribu?" Meiko menyerahkan segepok uang dari dompetnya.
"Ah Bu Meiko, saya tak ingin uang Anda!" Oliver mundur selangkah sambil mengedepankan kedua tangannya dengan gerakan menolak.
"Lalu apa yang Anda inginkan?? Anda ingin membunuh saya??" bentak Meiko dengan tatapan kejam.
"Aduuh.. Bukan begitu. Saya harus menjamin keamanan Anda."
"Lalu mengapa Anda tidak menjamin keamanan keluarga saya 5 bulan lalu dan kemarin malam?"
"Terjadi badai Bu Meiko. Saya harus mengutamakan keselamatan penumpang saya yang masih selamat. Yang masih di kapal ini, maafkan saya. Tapi Anda tidak bisa egois seperti itu!"
"Apa?! Anda bilang saya egois?? Jawab saya Nahkoda Oliver, jawab saya!!" Lalu Meiko melunakkan suaranya. "Apa yang akan Anda lakukan jika Anda menjadi saya? Keluarga Anda hilang, hanya karena seorang nahkoda yang sangat tidak bertanggung jawab, yang cukup bodoh untuk mengulang melewati area dimana sering terjadi badai, dan kedua kalinya menghanyutkan penumpangnya? Apa yang akan Anda lakukan??"
Oliver tidak menjawab. Lidahnya beku. Suaranya tersekat. Sebersit kesedihan tiba-tiba muncul di matanya.
"Jawab saya Nahkoda Oliver!!! Jawab saya!!" Meiko berteriak.
"Saya tidak tahu Bu Meiko!!" Oliver balas berteriak. "Saya tidak tahu.." Suaranya melunak. "Maafkan saya karena sudah berteriak." Ia menarik napas. Dengan frustrasi mengusap-usap wajah dengan kedua telapak tangannya, dan jatuh terduduk di kursi nahkoda. "Keluarga saya juga hilang pada kecelakaan badai Bu Meiko."
Meiko terdiam. Merasa bersalah karena telah membentaknya tadi. "Lalu.. Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Itu adalah tahun pertama saya menjadi nahkoda. Ketika itu terjadi badai besar dan saya mengajak keluarga saya ikut berlayar. Orangtua saya lebih tepatnya. Saat itu terjadi badai besar, tiba-tiba salah satu asisten saya berteriak bahwa keluarga saya hanyut di lautan. Saya memaksakan kehendak saya untuk menyelamatkan mereka, dan saya memberhentikan kapal. Sekoci diturunkan, sebenarnya asisten saya sudah mengingatkan bahwa sebaiknya kapal tidak boleh berhenti. Lagipula, hanya 2 orang yang hanyut. Tapi saya tidak mengindahkannya. Tetapi beberapa menit kemudian saya sadar bahwa dia benar, badai mengamuk lebih keras, orangtua saya hilang dan ombak menenggelamkan seluruh kapal dan penumpang lainnya. Saya beruntung karena ketika kapal tenggelam, saya berada di luar dan saya langsung berenang ke atas." Oliver berhenti sebentar. "Saya terombang-ambing selama beberapa hari sampai akhirnya seseorang menemukan saya dan saya dibawa ke pulau terdekat. Tapi intinya adalah.. Saya nahkoda, tetapi saya selamat sedangkan yang lain tidak. Saya sangat menyesal, saya berpikir ingin bunuh diri tapi.. Jika begitu hidup saya akan lebih sia-sia." Oliver berhenti. "Begitulah ceritanya Bu."
Terjadi keheningan selama beberapa detik. Lalu, akhirnya Meiko berbicara. "Saya turut menyesal atas kejadian itu Pak Oliver, hanya saja.." Meiko berhenti, mencari kata-kata yang tepat. "Saya yakin mereka masih hidup. Dan, sebelum saya menyesal seumur hidup - sekali lagi maafkan saya - saya ingin benar-benar memastikan apakah mereka masih hidup atau tidak. Firasat saya mengatakan bahwa mereka terdampar di sebuah pulau terpencil, saya tidak tahu apakah ini benar atau hanya firasat, tetapi saya ingin mencobanya. Saya mohon Nahkoda Oliver.. Saya yakin Anda pasti mengerti."
Oliver menarik napas. "Ya.. Saya mengerti." Ia menoleh ke Meiko. "Saya punya teman, ia bekerja di kapal ini. Dulu dia bekerja di tim yang mencari korban kecelakaan kapal atau pesawat yang hilang. Tapi sekarang ia bekerja di Maintenance Room, Anda bisa menemuinya. Ini kartu namanya." Oliver memberi sebuah kartu nama kecil ke Meiko.
"Terima kasih banyak Nahkoda Oliver. Berapa saya harus membayar Anda?" Meiko menerima kartu itu sekaligus menjabat tangan Oliver.
"Tidak perlu Bu Meiko. Tidak perlu." Oliver tersenyum. "Ketika Anda sudah bertemu dengan teman saya, bilang saja saya sudah menyediakan speedboat di Special Room. Dan bilang saja saya meminta dia menemani Anda mencari keluarga Anda."
"Oh.." Meiko tersentak. "Tak perlu repot-repot Nahkoda Oliver, saya.."
"Dia sudah berpengalaman Bu Meiko." potong Oliver. "Dan saya memaksa. Dia harus menemani Anda, saya yakin dia tidak akan keberatan. Mencari orang hilang sudah seperti petualangan baginya."
"B.. Baiklah.. Terima kasih banyak Nahkoda Oliver." Meiko meraih dompetnya dan menyerahkan uang lima ribu yen. "Kumohon diterima Nahkoda Oliver, saya memaksa!" Lalu Meiko bergegas keluar dari anjungan kapal tanpa menunggu jawaban dari Oliver.
Tok tok tok. Meiko mengetuk pintu di Maintenance Room. Pintu langsung terbuka dan seorang.. Entahlah.. Seorang berambut pirang pendek yang dipotong seperti laki-laki menyambutnya. "Ya?" suara wanita yang agak berat menyambutnya.
Meiko menelan ludah. "Ehem.. Saya mencari.. Hmm.." Meiko kesulitan membaca nama di kartu nama.
"Oh.. Anda pasti Bu Meiko." Ia keluar dari Maintenance Room.
"Yyya.. Benar." Meiko mengiyakan. "Apa Anda.."
"Ya. Benar." Orang itu memotong dengan cepat sebelum Meiko berhasil menyelesaikan kalimatnya. "Tadi saya habis dari Ruang CCTV dan saya melihat Anda berbicara dengan Nahkoda Oliver. Lalu Nahkoda Oliver terlihat seperti mengeluarkan kartu nama saya. Mengapa dia menyuruh Anda menemui saya?"
Terkejut dengan sikap orang baru ini yang terkesan agak lancang, Meiko langsung menjawab. "Keluarga saya hilang. Lalu.."
"Ooo. Dia menyuruh saya menemani Anda mencari mereka?" tanyanya.
"I, iya." jawab Meiko.
"Kalau begitu ikut saya. Ke 'Special Room' kan?" Ia tersenyum.
Meiko masih speechless. Ada apa dengan orang ini? -_-" Mengapa dia selalu memotong perkataannya?
"Hei, gantikan aku ya. Aku ada misi spesial dari Oliver." Si rambut pirang berteriak ke dalam Maintenance Room. Dan samar-samar terdengar suara laki-laki yang berkata "Okee.." dari dalam. Lalu ia berjalan keluar dari Maintenance Room dan menjabat tangan Meiko.
"Perkenalkan.. Nama saya Valshe."
To be continued..
"Kak Miku, Kak Meiko, Rin dan Tante Luka bener-bener harus liat ini!! Mereka harus ke sini!! Waaah.." Len lari-lari mondar-mandir keliling rumah.
Kaito dan Gakupo bertukar pandang sedih. "Kecil harapannya mereka bakal ke sini Len." kata Kaito dengan senyum sedih.
"Ya.. Entahlah, mungkin tempat ini terlalu terpencil sampe-sampe helikopter aja nggak mungkin lewat sini." tambah Gakupo. "Waktu awal-awal kita terjebak di sini, kita ngabisin 2 bulan pertama keliling pulau bikin api unggun, nunggu helikopter dateng. Nggak jarang kita ngebangun patung dari daun yang kita nyalain api di puncaknya, buat sinyal minta tolong. Tapi nggak pernah ada yang dateng." jelasnya.
"Kita putus asa, dan akhirnya kita mbangun rumah di sini, kita udah nggak pernah berharap bakal bisa balik lagi." ujar Kaito sedih.
Len manggut-manggut. "Tapi sekarang aku di sini! Ini pertanda baik. Kita harus pulang!" serunya.
"Gimana Len? Ini pulau terpencil in the middle of nowhere dan percaya sama aku.. Kita terjebak di sini. Trapped! No way out! Cut out from this world! Never gonna make it there.." kata Gakupo sambil melirik jendela.
"Aaaah!! Ini bukan kalian!! Kak Kaito dan Om Gakupo yang aku kenal, bukan kayak gini.." ujar Len kecewa.
"Kita amnesia Len, jangan salahin kita." kata Gakupo ketus.
"Aku serius.." Len menarik Kaito dan Gakupo secara paksa untuk duduk di tengah ruangan. "Mungkin aku harus nyeritain beberapa kutipan hidup kalian.."
Kaito terdiam, menatap Len dengan serius. Tetapi Gakupo hanya memberi tatapan 'trust-me-kid-you-will-never-get-out-of-this-island' yang sinis.
"Oke. Aku akan memulai dari Kak Kaito.. Ehem.." Len berdeham. "Kak Kaito hidup miskin. Kak Kaito adalah anak kelima dari 9 bersaudara. Delapan cewek, 1 cowok. Kak Kaito selalu kerja keras untuk menghidupi mereka. Ya emang nggak cuman kakak doang yang kerja, tapi diantara yang lain, pekerjaan Kak Kaito sebagai artis paling mapan. Kak Kaito rela malu-maluin depan umum biar dapet uang, banyak video dan foto-foto kakak yang di situ foto kakak lagi apes. Lalu, waktu dapetin Kak Miku.. Ahaaaaa ini favoritku.. Ya aku tau kakak orangnya payah, polos, hmmm, hampir nggak bisa diandalkan, hampir nggak ada romantis-romantisnya.. Eeee jangan marah.." Len panik melihat ekspresi Kaito yang 'sepayah-itukah-aku'.
"Iya oke. Lanjut." ujar Kaito cepat.
Len melanjutkan. "Ya.. Tapi kalo depan Kak Miku, Kak Kaito bisa jadi penyelamat. Tau-tau bisa jadi gagah dan keren. Misalnya waktu Kak Miku hampir dirampok penjahat, Kak Kaito langsung ke depannya Kak Miku, habis itu mengorbankan es krim mahal yang baru dibeli ke muka perampoknya dan kabur. Kakak itu paling suka es krim vanila, sampe beli banyak yang nggak gampang meleleh, mengorbankan uang tabungannya yang dikumpulin susah payah dan.."
"Oke. Lalu, apa hebatnya?" potong Gakupo. "Itu cuman kabur dari perampok dan mengalihkan perhatian dengan es krim. Semua orang juga bisa."
"Ta.. tapi.." Len terbata-bata.
"Kamu mau ngomong kayak gimana juga, kita nggak akan pernah bisa keluar dari pulau ini. Kita terkutuk di sini, nggak akan bisa balik, sampe kapanpun! Stop giving hopes when there's none!!" Gakupo langsung bangkit.
"Lho? Po, mau kemana?" Kaito berusaha mencegah.
"Cari makan. Udah sana kamu sambut tamu kita dulu." Gakupo memalingkan wajah dengan cuek lalu mengambil tombak *ternyata ada tombak juga* lalu turun dari rumah pohon.
Sunyi.. Krik krik krik..
Len terkejut. Apa yang baru saja dia katakan?
"Maaf Len, dia emang kayak gitu." Kaito tersenyum malu.
"Ya, aku kenal. Om Gakupo emang agak sensitif, sedikit belagu dan keras kepala. Tapi aku masih nggak paham kenapa dia tau-tau langsung marah kayak gitu." kata Len.
"Yaaa.. Waktu dulu, dia lah yang paling bersemangat untuk keluar dari sini. Bikin kapal yang ujung-ujungnya selalu bocor, bikin patung. Kamu kira itu ideku? Bukan, itu ide dia. Dia bilang 'Biru! Tiap malem aku selalu mimpiin pesta pernikahanku, dan aku mikir, ini bukan sekadar mimpi. Istriku di sana and who knows I already have a kid, dan aku harus ke mereka! Mumpung aku masih hidup. Gimana dengan kehidupan mereka sehari-hari? Apakah damai, bisa makan ato nggak? Kamu mungkin nggak akan pernah percaya tentang mimpiku, nggak percaya cowok kayak aku bisa nikah juga, tapi aku yakin mereka di sana. Keluargamu juga disana Ru!!' dia ngomelin aku kayak gitu waktu aku udah putus asa. Jujur aja, padahal aku nggak pernah bilang kalo aku nggak percaya cowok kayak dia bisa nikah, haha. Tapi intinya setelah 2 bulan, dia nyerah. Sebelum bener-bener nyerah, dia tau-tau ngilang selama 1 hari. Aku emang nemuin dia, tapi waktu aku liat, dia lagi nangis histeris di suatu tempat yang agak tersembunyi, sambil mukul-mukul sekelilingnya, ya aku langsung kabur aja. Lalu beberapa jam kemudian, dia balik ke tempat aku sama dia biasa istirahat dan dia bilang ke aku 'Ya udah Ru. Ayo bikin rumah pohon.' gitu." Kaito bercerita.
"Wew." Len kicep. "Segitunya."
"Ya.. Begitulah. Udah sekarang kita tunggu dia aja." kata Kaito sambil merebahkan tubuhnya.
"Mmmm.. Apakah nggak sebaiknya kita kejar?" usul Len.
"Jangan." jawab Kaito. "Kalo kita kepencar, dia malah marah nantinya. Biarin aja. Dia bakal balik sebelom matahari terbenam."
"Hmm.. Oke.." Lalu Len berjalan ke arah jendela barat, memandangi pemandangan pulau di bawahnya.
"Oya Len.. Istrinya Gakupo, kayak apa dia?" tanya Kaito santai.
"Oooh.. Tante Luka.. Tante Luka itu cantik, elegan, sensual.."
"Hahay sensual. Kamu kecil-kecil udah ngerti sensual aja. Pantes Gakupo mau." tegur Kaito.
"Tapi aku serius kak. Tante Luka itu sensual dan cantik. Terus baik, pengertian. Agak tinggi, rambutnya pink panjang dan selalu diurai. Dan jujur, kalo diliat-liat, mereka pasangan yang cocok." jelas Len.
"Lalu.. Pacarku?? Gimana pacarku? Mei.. Mi.. Siapa namanya? Miku? Miku kan? Ya, dia gimana?" Kaito bertanya dengan semangat.
"Ahahahaha. Cantik, rambutnya tosca panjang dan selalu diiket 2, polos, baik. Wkwkwkwk." Len mulai menjelaskan.
"Waaaa.. Persis kayak di mimpiku." Kaito berteriak lalu mengambil salah satu bantal daun dan memeluk-meluknya. "Hubunganku dan dia lancar kan??"
"Lancar lancar.. Hahaha." jawab Len. "Tapi.."
"Tapi apa??" Kaito bangkit, penasaran.
"Ahahahaha. Kalo berantem kalian lucu.." kata Len.
"Aaaah Len!! Cerita sama aku lebih banyak!!"
Dan mereka menghabiskan sisa hari bercerita dan tertawa. Sedangkan Gakupo, yaah.. Berburu -_-"
-(*)-(*)-(*)-(*)-(*)-(*)-(*)-(*)-(*)-(*)-(*)-(*)-(*)-(*)-(*)-
Meiko berjalan ke anjungan kapal lagi. Hari masih pagi ketika itu dan Rin dan yang lainnya belum bangun tidur. Jujur saja, semalaman mereka semua menangis tersedu-sedu dan baru berhenti pada pukul 2 pagi. Dan sekarang, dengan tekad baru, Meiko memutuskan untuk mencari sendiri 'keluarga'nya yang hilang.
Ia menaiki tangga menuju anjungan, menemui Nahkoda Oliver yang sedang duduk santai sambil minum kopi dan melihat ke jendela depan. Ketika pintu dibuka, spontan Oliver langsung menengok ke belakang. Agak terkejut melihat ternyata Meiko yang memasuki anjungannya. Ia langsung bangkit, menghadap Meiko.
Ia meminta maaf, "Saya turut menyesal atas kehilangan.."
"Saya ingin mencari mereka." potong Meiko, bersedekap sambil menatap lurus ke Oliver dengan ketus.
"A.. Apa?" Oliver tersentak.
"Saya ingin mencari mereka." jelas Meiko. "Anda tahu, keluarga saya yang hilang dalam kapal ini." Meiko memberi penekanan pada tiga kata terakhir. "Saya baru sadar bahwa Anda adalah seorang nahkoda yang tidak bertanggung jawab, membiarkan penumpang Anda hanyut begitu saja dalam badai besar sedangkan Anda yang merupakan Kapten kapal ini baik-baik saja dan malah menikmati secangkir kopi hangat di pagi hari. Anda bahkan tidak melakukan pencarian apa-apa terhadap penumpang Anda yang hanyut dari kapal ini. Jadi saya berpikir tidak ada gunanya berharap pada Anda, dan saya ingin mencari mereka sendiri, tanpa bantuan Anda."
"Ta.. Tapi Bu.. Saya tidak bisa membiarkan itu terjadi." Oliver menolak. "Badai bisa terjadi lagi, dan jika saya mengizinkan Bu Meiko mencari mereka sendiri, sama saja dengan saya membunuh.."
"Anda sudah membunuh saya dari dulu." potong Meiko pedas. "Kehilangan keluarga sendiri, itu membunuh kami semua dari dalam. Anda tidak perlu merasa bersalah lagi jika pada kenyataannya saya nanti tidak bisa kembali dari pencarian saya. Dan saya tidak menerima jawaban 'tidak' dari Anda. Saya minta sekoci. Speedboat lebih baik jika Anda memilikinya. Saya juga bersedia membayar.. Lima puluh ribu yen. Cukup kah?" Meiko mulai meraih dompetnya.
"Tapi.. Saya tidak bisa mengizinkan Anda turun kapal begitu saja dan memulai pencarian terhadap keluarga Anda." tolak Oliver tegas.
"Ooo jadi 50 ribu belum cukup? Ya sudah, kalau begitu, 100 ribu?" Meiko menyerahkan segepok uang dari dompetnya.
"Ah Bu Meiko, saya tak ingin uang Anda!" Oliver mundur selangkah sambil mengedepankan kedua tangannya dengan gerakan menolak.
"Lalu apa yang Anda inginkan?? Anda ingin membunuh saya??" bentak Meiko dengan tatapan kejam.
"Aduuh.. Bukan begitu. Saya harus menjamin keamanan Anda."
"Lalu mengapa Anda tidak menjamin keamanan keluarga saya 5 bulan lalu dan kemarin malam?"
"Terjadi badai Bu Meiko. Saya harus mengutamakan keselamatan penumpang saya yang masih selamat. Yang masih di kapal ini, maafkan saya. Tapi Anda tidak bisa egois seperti itu!"
"Apa?! Anda bilang saya egois?? Jawab saya Nahkoda Oliver, jawab saya!!" Lalu Meiko melunakkan suaranya. "Apa yang akan Anda lakukan jika Anda menjadi saya? Keluarga Anda hilang, hanya karena seorang nahkoda yang sangat tidak bertanggung jawab, yang cukup bodoh untuk mengulang melewati area dimana sering terjadi badai, dan kedua kalinya menghanyutkan penumpangnya? Apa yang akan Anda lakukan??"
Oliver tidak menjawab. Lidahnya beku. Suaranya tersekat. Sebersit kesedihan tiba-tiba muncul di matanya.
"Jawab saya Nahkoda Oliver!!! Jawab saya!!" Meiko berteriak.
"Saya tidak tahu Bu Meiko!!" Oliver balas berteriak. "Saya tidak tahu.." Suaranya melunak. "Maafkan saya karena sudah berteriak." Ia menarik napas. Dengan frustrasi mengusap-usap wajah dengan kedua telapak tangannya, dan jatuh terduduk di kursi nahkoda. "Keluarga saya juga hilang pada kecelakaan badai Bu Meiko."
Meiko terdiam. Merasa bersalah karena telah membentaknya tadi. "Lalu.. Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Itu adalah tahun pertama saya menjadi nahkoda. Ketika itu terjadi badai besar dan saya mengajak keluarga saya ikut berlayar. Orangtua saya lebih tepatnya. Saat itu terjadi badai besar, tiba-tiba salah satu asisten saya berteriak bahwa keluarga saya hanyut di lautan. Saya memaksakan kehendak saya untuk menyelamatkan mereka, dan saya memberhentikan kapal. Sekoci diturunkan, sebenarnya asisten saya sudah mengingatkan bahwa sebaiknya kapal tidak boleh berhenti. Lagipula, hanya 2 orang yang hanyut. Tapi saya tidak mengindahkannya. Tetapi beberapa menit kemudian saya sadar bahwa dia benar, badai mengamuk lebih keras, orangtua saya hilang dan ombak menenggelamkan seluruh kapal dan penumpang lainnya. Saya beruntung karena ketika kapal tenggelam, saya berada di luar dan saya langsung berenang ke atas." Oliver berhenti sebentar. "Saya terombang-ambing selama beberapa hari sampai akhirnya seseorang menemukan saya dan saya dibawa ke pulau terdekat. Tapi intinya adalah.. Saya nahkoda, tetapi saya selamat sedangkan yang lain tidak. Saya sangat menyesal, saya berpikir ingin bunuh diri tapi.. Jika begitu hidup saya akan lebih sia-sia." Oliver berhenti. "Begitulah ceritanya Bu."
Terjadi keheningan selama beberapa detik. Lalu, akhirnya Meiko berbicara. "Saya turut menyesal atas kejadian itu Pak Oliver, hanya saja.." Meiko berhenti, mencari kata-kata yang tepat. "Saya yakin mereka masih hidup. Dan, sebelum saya menyesal seumur hidup - sekali lagi maafkan saya - saya ingin benar-benar memastikan apakah mereka masih hidup atau tidak. Firasat saya mengatakan bahwa mereka terdampar di sebuah pulau terpencil, saya tidak tahu apakah ini benar atau hanya firasat, tetapi saya ingin mencobanya. Saya mohon Nahkoda Oliver.. Saya yakin Anda pasti mengerti."
Oliver menarik napas. "Ya.. Saya mengerti." Ia menoleh ke Meiko. "Saya punya teman, ia bekerja di kapal ini. Dulu dia bekerja di tim yang mencari korban kecelakaan kapal atau pesawat yang hilang. Tapi sekarang ia bekerja di Maintenance Room, Anda bisa menemuinya. Ini kartu namanya." Oliver memberi sebuah kartu nama kecil ke Meiko.
"Terima kasih banyak Nahkoda Oliver. Berapa saya harus membayar Anda?" Meiko menerima kartu itu sekaligus menjabat tangan Oliver.
"Tidak perlu Bu Meiko. Tidak perlu." Oliver tersenyum. "Ketika Anda sudah bertemu dengan teman saya, bilang saja saya sudah menyediakan speedboat di Special Room. Dan bilang saja saya meminta dia menemani Anda mencari keluarga Anda."
"Oh.." Meiko tersentak. "Tak perlu repot-repot Nahkoda Oliver, saya.."
"Dia sudah berpengalaman Bu Meiko." potong Oliver. "Dan saya memaksa. Dia harus menemani Anda, saya yakin dia tidak akan keberatan. Mencari orang hilang sudah seperti petualangan baginya."
"B.. Baiklah.. Terima kasih banyak Nahkoda Oliver." Meiko meraih dompetnya dan menyerahkan uang lima ribu yen. "Kumohon diterima Nahkoda Oliver, saya memaksa!" Lalu Meiko bergegas keluar dari anjungan kapal tanpa menunggu jawaban dari Oliver.
Tok tok tok. Meiko mengetuk pintu di Maintenance Room. Pintu langsung terbuka dan seorang.. Entahlah.. Seorang berambut pirang pendek yang dipotong seperti laki-laki menyambutnya. "Ya?" suara wanita yang agak berat menyambutnya.
Meiko menelan ludah. "Ehem.. Saya mencari.. Hmm.." Meiko kesulitan membaca nama di kartu nama.
"Oh.. Anda pasti Bu Meiko." Ia keluar dari Maintenance Room.
"Yyya.. Benar." Meiko mengiyakan. "Apa Anda.."
"Ya. Benar." Orang itu memotong dengan cepat sebelum Meiko berhasil menyelesaikan kalimatnya. "Tadi saya habis dari Ruang CCTV dan saya melihat Anda berbicara dengan Nahkoda Oliver. Lalu Nahkoda Oliver terlihat seperti mengeluarkan kartu nama saya. Mengapa dia menyuruh Anda menemui saya?"
Terkejut dengan sikap orang baru ini yang terkesan agak lancang, Meiko langsung menjawab. "Keluarga saya hilang. Lalu.."
"Ooo. Dia menyuruh saya menemani Anda mencari mereka?" tanyanya.
"I, iya." jawab Meiko.
"Kalau begitu ikut saya. Ke 'Special Room' kan?" Ia tersenyum.
Meiko masih speechless. Ada apa dengan orang ini? -_-" Mengapa dia selalu memotong perkataannya?
"Hei, gantikan aku ya. Aku ada misi spesial dari Oliver." Si rambut pirang berteriak ke dalam Maintenance Room. Dan samar-samar terdengar suara laki-laki yang berkata "Okee.." dari dalam. Lalu ia berjalan keluar dari Maintenance Room dan menjabat tangan Meiko.
"Perkenalkan.. Nama saya Valshe."
To be continued..



0 komentar: